Favorite Poet

a heartwarming letter from a friend

aku ngga tau cara mendefinisikan perasaan “istimewa” pada seseorang, tapi sedikitnya aku jadi paham setelah satu kalimatmu ketika di kos teman kita itu berhasil masuk di kepalaku: kita ngga bisa milih kepada siapa dan bagaimana perasaan itu tumbuh.

demikian pula akhirnya aku paham, beberapa tahun terakhir perasaan itu yang membuat kamu berusaha sekuat-kuatnya.

aku merumpamakannya seperti hari, di mana hari senin, selasa, rabu, kamis, kamu memilih menghindar supaya perasaan itu pelan-pelan bisa reda. aku ingat teman-teman yang kamu percaya seketika jadi pengalih perhatian paling jago supaya kehadiran dia seperti angin. sebenarnya ada, tapi tidak terlihat.

celakanya, di hari jumat. dia bertindak seolah apa yang kamu dulu perjuangkan terbalas. dan itu membingungkan.

aku ngga tau apa yang terjadi di hari sabtu dan minggu. tapi apa yang terjadi di hari jumat itu mungkin menjelma bayang-bayang di kepalamu. pasti capeknya lebih terasa, karena harus menghadapi bayang-bayang itu sendirian.

mungkin semua kesulitan itu yang membuat aku ngga sengaja mendengar kalau kamu jadi meragu dengan diri sendiri.

seperti menghitung-hitung segala yang ada di dalam diri supaya bisa menangkan perdebatan terhadap pikiran sendiri, perihal pantas atau tidak pantas, kamu sebagai perempuan mendapat perasaan yang sama tulusnya seperti apa yang kamu upayakan di tahun-tahun terakhir ini.

seandainya bisa menelisik jauh ke dalam pikiran mu, aku akan jadi pembela. aku mau pikiranmu dengar ini dengan jelas:

seberapapun hasil yang kamu dapatkan dalam hitung-hitungan itu. mungkin perhitunganmu keliru jika hasilnya tidak sama seperti apa yang aku dan teman2mu ini simpulkan,

bahwa segala yang ada dalam diri kamu tidak kurang, pun bukan sekadar cukup, kamu lebih dari cukup.

supaya pikiran itu akhirnya percaya,

“I’m gonna find someone someday who might actually treat me well.
This is a big world, that was a small town.”

supaya pikiran itu mau percaya,
bahwa akan ada
yang lebih gigih usahanya,
yang tidak membalikkan badan padahal belum pernah mulai langkah pertamanya,
yang lebih tulus tutur dan sikapnya.
yang bisa lihat kamu dalam pandangan terbaik.

mungkin upaya untuk mempercayai butuh waktu. tapi untuk saat ini, pikiran itu hanya perlu tahu, kalau kamu ngga berjalan sendirian untuk selesaikan masa lalumu, karena teman-temanmu akan menemukan cara untuk menyusul perjalananmu.

 

selamat ulang tahun, deena

 

 

written by:

Fadhilah Aliyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s